Jumat, 29 Agustus 2014

9 Mitos Salah Kaprah Seputar Android

9 Mitos Salah Kaprah Seputar Android
9 Mitos Salah Kaprah Seputar Android - Biasanya saya tidak pernah membuat artikel dengan judul se-unik ini. Dulu saya lebih sering menyumbangkan opini seputar Android seperti cara menambah RAM Android, bahaya menambah RAM Android, perlu atau tidaknya menambah RAM di Android, apakah RAM Android bisa ditambah, dan masih banyak lagi yang lain. Untuk akhir-akhir ini saya lebih cenderung 'ikut arus'. Setidaknya saya masih punya waktu mengurus blog ini meski tiap harinya saya juga sibuk dengan urusan perkuliahan.

Bicara soal mitos Android, saya kerap mendengar seseorang bercerita banyak mengenai Android namun hanya memutar-mutar kalimat saja sehingga orang yang diajak nya berbicara juga hanya mengangguk-angguk dipenuhi tanda tanya. Ia berbicara panjang lebar layaknya memberi solusi padahal kenyataannya ia hanya mengira-ngira tanpa tahu yang ia ucapkan merupakan fakta atau mitos.

Berikut mitos-mitos yang di maksud.

Gunakan Task Killer untuk melegakan RAM Android

Sejauh ini, masih banyak pengguna Android yang setia memakai Task Killer untuk mengamankan penggunaan RAM mereka. Padahal, faktanya Android itu memiliki management RAM yang baik.

Free memory dapat bertambah dengan sendirinya jika diperlukan. Tanpa Task Killer yang prinsip kerjanya menghentikan aplikasi Android dalam periode yang telah ditentukan pun, pengguna tidak perlu kesusahan menghentikan running application satu per satu karena itu sudah 'otomatis'.

Jadi, untuk apa memakai Task Killer? Task Killer justru rentan membuat system Android freeze.

Kalibrasi baterai Android untuk menambah umur baterai

Menghabiskan daya baterai hingga 0% lalu mengisinya sampai penuh dikatakan dapat menambah umur baterai. Selain itu, cara lain yang bisa dilakukan yakni dengan mengosongkan daya baterai kemudian membungkus baterai dengan plastik dan memasukkannya ke dalam lemari es beberapa hari untuk hasil yang optimal.

Fakta atau mitos?

Mitos! Saya pernah melakukannya. Hasilnya cukup mencengangkan. Elemen baterai rusak setelah tiga hari di dalam freezer. Benar-benar saya takjub setelah kejadian itu.

Mengosongkan baterai dan mengisinya kembali merupakan cara kalibrasi yang bisa dikatakan benar. Namun, hal tersebut tidak menjamin menambah umur. Satu-satunya cara menjaga baterai Android agar awet yaitu dengan mengisi menggunakan charger original dan mendiamkannya selama baterai belum penuh.

Wipe Battery Stat untuk menambah life time baterai

Hal ini jelas membingungkan. Di forum-forum internet, ketika masalah baterai boros mencuat, mereka menyarankan untuk melakukan Wipe Battery Stat dari recovery mode (CWM).

Wipe Battery Stat berguna bagi seseorang yang baru selesai flashing smartphone untuk me-reset statistik baterai. Hal ini di anjurkan agar nantinya system tidak mendapati statistik lama yang dapat menimbulkan crash seperti baterai tidak dapat terisi sampai 100%.

Dari hal tersebut sudah jelas bahwa menambah umur baterai dengan menghapus stat baterai hanyalah mitos belaka.

Pakai aplikasi Antivirus untuk melindungi Android dari malware

Mitos yang ini merupakan fakta yang dipercayai banyak orang. Terlebih setelah beredar kabar akhir-akhir ini ada ancaman malware yang mengintai aplikasi-aplikasi Google Play. Selain itu, bocornya Heartbleed juga makin memperparah nama baik Android.

Tapi yakin lah. Android itu merupakan sistem operasi yang aman. Selama ini belum pernah ada masalah serius yang dialami pengguna Android terkait kemunculan malware.

Penggunaan Antivirus pada Android merupakan hal yang sia-sia karena justru akan memberatkan system. System monitoring yang di miliki Antivirus sejauh ini dikenal paling banyak memakai free RAM Android.

Baik tidak nya smartphone Android dilihat dari hasil score benchmark

Antusiasme pengguna terhadap perolehan score benchmark Android membuat saya heran. Itu hanya lah angka.

Mungkin benar semakin tinggi specs suatu smartphone membuat perolehan angka menjadi tinggi. Tapi baik tidak nya smartphone Android bukan dilihat dari benchmark nya saja melainkan fakta. Tidak semua smartphone berspesifikasi tinggi memiliki performa yang cepat dan smooth.

Quad-Core lebih baik daripada Dual-Core

Yakin dengan statement tersebut? Perlu kah prosesor empat inti untuk pemakaian sehari-hari seperti browsing dan chatting? Tidak sama sekali, terkecuali untuk bermain game. Selebihnya, kedua nya tidak ada bedanya.

Matikan GPS ketika tidak dipergunakan untuk menghemat daya

Mendiamkan GPS ketika tidak dipakai tidak ada kaitannya dengan penghematan daya. Pasalnya, GPS hanya akan aktif ketika dipakai saja seperti membuka Google Maps, update status Facebook dengan menautkan lokasi saat ini, dan lain-lain.

Undervolt berguna untuk membuat smartphone tetap dingin dan irit baterai

Soal undervolt, underclock, overclock, dan lain-lain bisa dibaca di Underclock Dapat Menghemat Pemakaian Baterai Android, Tapi...

iOS lebih baik dari Android

Untuk yang satu ini apakah harus di luruskan? #JustKidding

Demikian 9 mitos salah kaprah seputar Android yang harus diketahui. Masih banyak mitos-mitos lain yang belum disebutkan. Misal seperti Qualcomm lebih baik daripada MediaTek.

Artikel diatas hanyalah opini. Bukan bermaksud menggurui namun tidak ada salahnya berbagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar